.post { -webkit-touch-callout:none; -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -ms-user-select:none; -moz-user-select:none; } .post blockquote,.post pre,.post code { -webkit-touch-callout:text; -webkit-user-select:text; -khtml-user-select:text; -ms-user-select:text; -moz-user-select:text; }

Rabu, 29 November 2017

Penentuan Target dan Strategi Public Relations



Public Relations profesional dalam pengelolaan sasaran/target yang hendak dicapainya melakukan pengadopsian tehnik-tehnik Management of Objective (MBO) dan Management by Objective of Result (MOR) untuk membantu ualitas nilai Public Relations dalam suatu organisasi.
            MBO dapat memberikan profesional Public Relation dengan sumber umpan yang sangat kuat. MBO dan MOR berhubungan dengan hasil-hasil Public Relations untuk penentuan target awal manajemen. Adapun poin-poin dalam MBO menurut Sholeh Soemirat dan Elvinaro Ardianto (2003:98) adalah sebagai berikut  :
1. Spesifikasi tujuan-tujuan organisasi dengan mencapai target penampilan organisasi.
2. Konferensi antara superior dan subordinate (bawahan)  untuk menyepakati terhadap pencapaian tujuan.
3. Kesepakatan antara atasan dan bawahan pada target yang konsisten dengan tujuan-tujuan organisasi.
4.  Pengkajian secara periodik oleh atasan dan bawahan untuk menilai kemajuan pencapaian tujuan.
Adapun kunci penggunaan MBO secara efektif dalam tugas Public Relations  dapat di pecah ke dalam tujuan tahap secara kritis  :
1.      Memiliki batasan dan misi kerja.
2.      Menetapkan kunci areal keberhasilan (hasil) dalam jangka waktu tertentu, berupaya dan berkepribadian.
3.      Identifikasi fakto-faktor menentukan tindakan pada target yang telah ditentukan.
4.      Meletakan target/menetapkan hasil yang akan dicapai.
5.      Persiapan perencanaan secara taktis untuk mencapai target khusus, termasuk: Pemrograman untuk memantapkan suatu rangakain tindakan untuk mengikutinya., penjadwalan waktu yang dibutuhkan bagi setiap tahapan, penganggaran untuk menugaskan sumber daya yang dperlukan bagi pencapaian tujuan, pemantapan pertanggung jawaban secara individu untuk pencapaian target/sasaran, pengkajian dan rekonsiliasi (perdamaian) melalui suatu prosedur testing untuk membawa kemajuan.
6.      Pemantapan keputusan dan peraturan untuk mengikutinya.
7.       Pemantapan prosedur untuk menangani pekerjaan

Sebagaimana diketahui sebelumnya bahwa tujuan public relations yakni membangun dan mengembangkan citra yang positif bagi perusahaan atau organisasi terhadap publik internal (karyawan) ataupun publik eksternal (konsumen atau masyarakat). Maka strategi public relations adalah bagian dari suatu rencana public relations yang diarahkan untuk membentuk persepsi yang menguntungkan sehingga menghasilkan citra yang positif.

Menurut Ahmad S. Adnanputra yang dikutip oleh Rosady Ruslan dalam bukunya Manajemen Public Relations dan Komunikasi mengatakan bahwa arti strategi public relations adalah alternatif optimal yang dipilih untuk ditempuh guna mencapai tujuan public relations dalam kerangka atau rencana public relations (public relations plan)[1].

Lebih lanjut Adnanputra menyatakan bahwa strategi adalah bagian terpadu dalam suatu rencana, sedangkan rencana merupakan produk dari suatu perencanaan, yang pada akhirnya perencanaan adalah satu fungsi dasar dari proses manajemen. Dalam suatu strategi terdapat beberapa komponen yang akan berpengaruh, baik secara makro, maupun secara mikro yaitu lingkungan, kondisi, visi atau arah, tujuan, dan sasaran dari suatu pola yang menjadi dasar bagi suatu lembaga. Beberapa aspek strategi atau pendekatan yang lazim digunakan oleh para praktisi public relations dalam mewujudkan tujuannya (Ruslan,2003:121), yaitu melalui pendekatan kemasyarakatan, persuasif, dan edukatif, tanggung jawab sosial public relations, kerjasama, serta pendekatan koordinatif dan integratif. Hal ini berkaitan erat dengan fungsi public relations yang diembannya, yaitu sebagai penyampai kebijakan manajemen kepada publiknya dan penyampai opini publik untuk manajemen. Karena keberhasilan suatu organisasi di mata publiknya, yaitu terciptanya hubungan yang harmonis. Hal ini hanya bisa dicapai manakala kebersamaan telah menjadi suatu keniscayaan. Pelaksanaan strategi public relations dalam berkomunikasi dikenal dengan istilah 7-Cs public relations communication menurut Cutlip, Center &Broom dalam Ruslan (2005:113-114) terdiri atas: credibility, contex, content, clarity, continuity and consistency, channels, capability of the audinence.

Strategi public relations diarahkan kepada upaya-upaya menggarap persepsi para stakeholders untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau perusahaan. Konsekuensinya, jika strategi public relations tersebut berhasil maka akan diperoleh sikap, tindak dan persepsi yang menguntungkan dari stakeholders sebagai khalayak sasaran dan pada akhirnya akan tercipta opini atau citra yang menguntungkan bagi organisasi atau perusahaan.
Menurut Cutlip & Center (dalam Kasali dan Abdurachman), terdapat proses public relations yang mengacu kepada pendekatan manajerial. Proses ini terdiri dari: Fact finding adalah mencari dan mengumpulkan fakta atau data sebelum melakukan tindakan. Public relations perlu mengetahui apa yang diperlukan oleh publik sebelum melakukan tindakan untuk memajukan perusahaanya.

Public relations bisa melakukan analisis langsung ke lapangan dengan mengadakan survei terkait produk yang diinginkan oleh publik. Misalnya, public relations menanyakan apa saja yang dibutuhkan oleh publik, siapa saja yang termasuk ke dalam publik, dan bagaimana publik dipandang dari berbagai faktor dengan maksud strategi yang digunakan ke depannya tidak meleset dan bisa mengembangkan perusahan yang diwakilinya. Planning adalah berdasarkan fakta membuat rencana tentang apa yang harus dilakukan dalam menghadapi berbagai masalah dalam perusahaan. Setelah melakukan fact finding ke lapangan barulah public relations bisa melakukan rencana apa yang ingin dilaksanakan guna memenuhi kebutuhan publik. Dalam tahap ini, public relations haruslah dituntut mempunyai ide yang kreatif agar publik tertarik dengan yang ditawarkan oleh perusahaan yang mereka wakili.

Communicating adalah rencana yang disusun dengan baik sebagai hasil pemikiran yang matang berdasarkan fakta atau data, yang kemudian dikomunikasikan atau dilakukan kegiatan operasional. Public relations berusaha mengkomunikasikan rencana-rencana yang mereka lakukan ke depannya dengan memperkenalkan kepada publik. Melakukan komunikasi dua arah dengan diadakannya acara-acara agar pihak publik dengan perusahaan bisa bertemu langsung dalam penawaran produk yang telah direncakan. Selain itu bisa juga dilakukan dengan mempublikasikan produk melalui iklan (surat kabar, televisi dan radio).

Evaluation adalah mengadakan evaluasi tentang suatu kegiatan, apakah tujuan sudah tercapai atau belum. Ini adalah tahap terakhir dari proses public relations. Evaluasi dilakukan secara kontinyu. Hasil evaluasi menjadi unsur dasar untuk kegiatan public relations selanjutnya.[2] Untuk dapat bertindak secara strategis, kegiatan public relations harus menyatu dengan visi dan misi perusahaannya. Untuk memberikan konstribusi kepada rencana kerja jangka panjang perusahaan, maka para praktisi public relations bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Menyampaikan fakta dan opini, baik yang beredar di dalam maupun diluar perusahaan. Informasi yang diterima oleh publik bisa dari media apa saja. Namun public relations harus menyampaikan informasi yang sesuai dengan fakta. Public relations berusaha menaikkan citra perusahaan dengan menyebarkan informasi yang baik tentang perusahaan.

b. Menelusuri dokumen resmi perusahaan dan mempelajari perubahan yang terjadi secara historis. Perusahaan akan mengalami perubahan dari masa ke masa melalui perkembangannya. Perubahan tersebut biasanya disertai dengan perubahan sikap perusahaan publiknya atau sebaliknya. Public relations harus mempelajarinya dengan teliti dan memahami perubahan perusahaan agar bisa melakukan peningkatan perusahaan baik kinerjanya, dari segi produk atau jasa yang dihasilkan, sehingga publik akan terus tertarik dan semakin percaya akan perusahaan yang mereka wakili.

c. Melakukan analisis SWOT (Strenghts/ kekuatan, Weaknesses/ kelemahan, Opportunities/ peluang, dan Threats/ ancaman). Public relations perlu melakukan analisis yang berbobot mengenai persepsi dari luar dan dalam perusahaan atas SWOT yang dimilikinya.[3] Oleh karena itu public relations harus mempunyai strategi khusus dalam menghadapi hal-hal yang bisa menurunkan perkembangan perusahaan. Perusahaan atau organisasi harus mampu menghadapi tekanan yang muncul dari dalam maupun luar perusahaan.

Public relations juga harus bisa berkonstruksi dalam manajemen dalam melakukan perkembangan perusahaan dan menaikkan citra perusahaan. Peran public relations dalam membangun citra tidaklah lengkap tanpa adanya perencanaan dari strategi public relations. Strategi public relations yang hanya berfokus pada teori dan tidak ditindaklanjuti ke lapangan pun tidak akan memberikan hasil. Public relations disini, dalam merumuskan dan menjalankan tugasnya untuk membangun citra, memerlukan  kreasi yang mampu membuat program-program unggulan yang dapat membangun citra perusahaan dan dapat mempertahankan citra tersebut.



Sumber Referensi :

Ningrum Ardyat (2014), "Strategi Public Relations Pt. Kompas Gramedia Dalam Membangun Citra Perusahaan (Studi Kasus Program Corporate Social Responsibility Bentara Budaya Jakarta)"

Chatamallah Maman (2005), Strategi “Public Relations” dalam Promosi Pariwisata: Studi Kasus dengan Pendekatan “Marketing Public Relations” di Provinsi Banten

MEDIATOR, Vol. 9 No.402 2 Desember 2008

Sumber dari Google


[1] Rosady Ruslan, S.H, Manajemen Humas & Manajemen Komunikasi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo, 2001), h. 115.
[2] Soleh Soemirat & Elvinaro Ardianto, Dasar-dasar Public Relation, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), h. 90.


[3] Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, Dasar-dasar Public Relation, h. 91.

Selasa, 21 November 2017

Kedudukan Puclic Relations (Humas) Corporate

Sebagai suatu pendukung manajemen, peran humas atau public relations sangat penting dan strategis bagi setiap organisasi. Tidak ada yang meragukan peran itu. Namun, kerap menjadi pertanyaan kemudian, apa dan bagaimanakah letak atau kedudukan humas dalam struktur organisasi perusahaan, sehingga pada akhirnya peran yang diharapkan akan dilakukan humas itu bisa terwujud? Dalam praktek, status dan besarnya perusahaan tidak otomatis diikuti oleh kesadaran untuk menyelenggarakan fungsi humas pula. Perusahaan besar tidak selalu berarti memiliki departemen humas yang besar pula. Banyak perusahaan besar yang ternyata memiliki departemen humas yang kecil. Sebaliknya, perusahaan yang relatif kecil ternyata mempekerjakan banyak staf humas,dan bahkan bagian Humas itu masih pula dibantu oleh konsultan humas dari luar organisasi.

Secara umum Public Relations mempunyai kedudukan yang sangat strategis, yakni berada di antara dua pihak publik. Baik untuk publik lingkup internal maupun publik lingkup eksternal.  Hal ini mengisyaratkan bahwa seorang Public Relations Officer sesuai fungsinya adalah sebagai “penyambung lidah’ perusahaan atau organisasi. Khususnya dalam hal mengadakan hubungan timbal balik dengan publik yang berada di dalam dan umumnya dengan publik publik yang berada di luar perusahaan.

Menurut Moore (2004:159) “Humas di tingkat manajemen puncak sebuah organisasi, dengan seorang direktur utama dan dewan direktur. Karena tindakan manajemen dan kebijaksanaan manajemen mempengaruhi Humas, maka fungsi humas harus ada dalam kedudukan tertentu di dalam struktur organisasi untuk berpartisipasi dengan manajemen dalam keputusan kebijakan umum”.

Posisi PR di Bagan Organisasi dan hubungannya dengan pimpinan manajemen (Top Management) seringkali dapat dijelaskan dengan menjelaskan terlebih dahulu bagaimana fungsi PR ini muncul. Pada awalnya Fungsi PR merupakan bagian integral dari departemen SDM sebagai tenaga pendukung komunikasi karyawan.

Karena fungsi ini terus berkembang, tidak hanya sekedar komunikasi karyawan belaka, maka pihak manajemen memisahkannya dari departemen SDM dan memberinya nama baru “Departemen PR”. Manajer departemen baru ini bertanggung jawab langsung ke CEO.
Berikut adalah kedudukan PR secara struktural menurut Cutlip, Center, & Broom (2009)


Pada sebuah perusahaan pimpinan utama dan humas seharusnya merupakan satu unit wadah kerja. Humas dan pimpinan utama merupakan “dwi-tunggal” yang harmonis dalam menggerakkan perusahaannya. Pimpinan sebagai pemegang policy dan public relations sebagai penterjemah daripada policy itu.

Demikian pula dalam hal menanggapi akibat dari policy yang tengah-tengah publiknya, public relations menyampaikannya pada pimpinan utama perusahaan. Dengan demikian, selain sebagai penyambung lidah perusahaan atau organisasi public relations dapat pula dikatakan sebagai “jembatan penghubung” di antara dua macam publiknya, baik internal maupun eksternal.

Dari gambaran tersebut, maka ideallah jika kedudukan PR secara organisatoris memang harus berada sedekat mungkin dengan pimpinan utama, di atas bagian-bagian yang ada dalam perusahaan itu. Kedudukan tersebut diartikan sebagai fungsi menurut hierarki kerja dalam kaitannya dengan aspek komunikasi sebagai unsur-unsur yang ada dalam perusahaan, yakni dilihat secara vertikal.(Yulianita, 2007:85)

Sesuai dengan fungsinya, kedudukan PR dalam konteks yang ideal dalam suatu perusahaan atau organisasi, menduduki tempat sebagai konsultan perusahaan atau organisasi khususnya konsultan dalam hal kegiatan komunikasi manajemen perusahaan.

Namun, pada perusahaan-perusahaan yang kecil, biasanya tugas PR dipegang langsung oleh pimpinan sendiri. Misalnya toko-toko kecil, dokter-dokter yang berpraktek sendiri, konsultan-konsultan, dan perusahaan-perusahaan lainnya yang organisasinya relatif kecil.
Dalam menjalankan fungsinya seorang PR/Humas, sebagai pejabat humas dituntut untuk memiliki 4 kemampuan, yaitu:
a. Memiliki kemampuan mengamati dan menganalisis suatu persoalan berdasarkan fakta di lapangan, perencanaan kerja komunikasi dan mampu mengevaluasi suatu problematik yang dihadapinya.
b. Kemampuan untuk menarik perhatian, melalui berbagai kegiatan publikasi yang kreatif, inovatif, dinamis dan menarik bagi publiknya sebagai target sasarannya.
c. Kemampuan untuk mempengaruhi pendapat umum, merekayasa pandangan atau opini public (crystallizing public opinion) yang searah dengan kebijakan organisasi instansi yang diwakilinya itu dalam posisi yang saling menguntungkan.
d. Kemampuan PR/Humas menjalin suasana saling percaya toleransi, saling menghargai, good will dan lain sebagainya dengan berbagai pihak, baik public internal maupun eksternal.

Dan peran ideal yang harus dimiliki oleh praktisi Humas (public relations practitioner) dalam suatu organisasi/instansi, antara lain:
1) Menjelaskan tujuan-tujuan (clarifying goals) organisasi kepada pihak publiknya. Tugas tersebut akan terpenuhi dengan baik, apabila PR/Humas bersangkutan lebih memahami atau meyakini pesan/informasi yang akan disampaikan itu.
2) Bertindak sebagai radar, tetapi juga harus mampu memperlancar pelaksanaan public policy-nya. Jangan sampai pesan atau informasi tersebut membingungkan atau menghasilkan sesuatu yang kadang-kadang tidak jelas arahnya, sehingga pesan-pesan akan menjadi sulit untuk diterima oleh publik.
3) Pihak PR/Humas harus memiliki kemampuan untuk melihat ke depan atau memprediksi sesuatu secara tepat yang didasarkan kepada pengetahuan akan data atau sumber informasi aktual dan faktual, yang menyangkut kepentingan organisasi maupun publiknya.[1]

Kedudukan humas dalam organisasi dan kewenangan petugasnya tidak selalu dapat dinyatakan dengan tegas. Menurut John Tondowijojo, bila humas diakui sebagai bagian jajaran kebijakan pimpinan, maka humas harus berada langsung dibawah direksi. Humas harus mampu menyampaikan kebijaksanaan pimpinan, sehingga ia harus langsung berada dipihak yang berhubungan dengan pimpinan seluruh jajaran manajemen. Sedangkan menurut Renald Khasali, public relations merupakan fungsi manajemen yang sama pentingnya dengan pemasaran, produksi, keuangan dan SDM.

Menurut Tondowidjojo, kegiatan humas haruslah sistematis dan terencana, tetapi kadang-kadang juga perlu untuk berimprovisasi dan berinovasi. Suatu kebijakan harus dipertimbangkan, dirumuskan, direncanakan dan evaluasi. Untuk ini diperlukan analisis data yang diperoleh tentang organisasi dan lingkungannya. Seberapa jauh PR harus menapakkan kakinya ke peran internal atau fungsi eksternal, tentu saja sepenuhnya tergantung pada kebijakan manajemen. Hanya saja kalau kita menginjak pada tataran ideal fungsi PR, tentu saja keseimbangan peran internal dan eksternal adalah perlu. Seberapa jauh titik keseimbangan tersebut harus dijalankan tentu tergantung pada bidang gerak perusahaan/organisasi yang bersangkutan.

Semakin kuat kedekatan perusahaan dengan publik dengan sendirinya membutuhkan banyak konsentrasi untuk memerhatikan publik. Sebaliknya kalau perusahaan lebih banyak bergerak pada komunitas yang tidak secara langsung menemui publik, maka peran PR harus dioptimalkan secara internal.

Morisan, seorang pakar Humas, dengan sangat tepat menguraikan kedudukan Humas dalam konteks organisasi/perusahaan. Menurutnya, ada tiga hal yang turut menentukan, eksistensi departemen Humas pada setiap perusahaan yaitu: Pertama, ukuran organisasi atau perusahaan itu sendiri. Suatu perusahaan kecil mungkin tidak terlalu membutuhkan unit humas tersendiri karena fungsi itu mungkin bisa dirangkap bagian lain. Pada beberapa organisasi tertentu fungsi Humas langsung dirangkap oleh salah seorang Direkturnya. Namun suatu perusahaan besar yang memiliki hubungan dengan khalayak luas sudah cukup membutuhkan suatu departemen Humas tersendiri dengan staf lengkap.

Kedua, nilai atau arti penting fungsi Humas bagi manajemen. Besar kecilnya departemen Humas terkadang dipengaruhi oleh pengetahuan atau kebutuhan pimpinan perusahaan terhadap peran Humas bagi kepentingan organisasi atau perusahaan. Suatu perusahaan keluarga atau perusahaan milik pribadi yang cenderung tertutup, biasanya tidak merasa terlalu membutuhkan fungsi Humas, kalaupun ada, hanya kecil saja. Kondisi ini berbeda dengan perusahaan terbuka yang sudah go public, yang harus lebih transparan, sehingga membutuhkan fungsi humas yang lebih aktif. Disini, pemahaman dan penghayatan pucuk pimpinan terhadap keberadaan Humas sebagai pendukung lini strategis organisasi tentu menjadi sangat menentukan.

Ketiga, karakteristik organisasi atau perusahaan. Setiap perusahaan pasti memiliki kebutuhan tersendiri yang tidak bisa diseragamkan dengan kebutuhan perusahaan lain. Perusahaan pembuat produk konsumen yang bersifat massal, semisal: sabun, sha



Sumber Referensi

Drs. Suryadi, Strategi mengelola Public Relations Organisasi, Cetakan Pertama, Penerbit Edsa Mahkota, Jakarta, 2007    
Jefkins, Frank., Public Relations, Edisi Kelima, Direvisi Oleh Daniel Yadin, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2003            
Maya Diah Nirwana, Dasar – Dasar Public Relations, Penerbit Muhammadiyah University Press, Sidoarjo, 2002 
http://www.duniapublicrelations.com/2016/12/kedudukan-public-relations-dalam.html?m=1
https://acehkrak.blogspot.co.id/2015/05/makalah-hubungan-masyarakat.html








[1] http://infointermedia.com/search/kedudukan-pr-dalam-organisasi

Selasa, 14 November 2017

Ruang Lingkup Public Relations (PR)

Keberadaan Public Relations (PR) adalah hal yang wajib bagi sebuah perusahaan. Dalam upaya untuk menciptakan, memelihara dan membina hubungan yang harmonis antara kedua belah pihak yakni perusahaan dengan konsumennya maka PR harus dapat menjadi jembatan penghubung yang baik.

Keberadaan public relations di dalam sebuah organisasi atau perusahaan sangat diperlukan untuk menciptakan dan membangun citra positif perusahaan. Sesuai dengan fungsinya. Public relations merupakan kegiatan komunikasi yang terencana dan terselenggara antara organisasi atau perusahaan kepada public internal dan eksternal dengan maksud terjalinnya hubungan harmonis serta adanya saling pengertian dan kerjasama antara keduanya yang saling menguntungkan.

Dalam operasionalisasinya, public relations membina hubungan yang harmonis antara organisasi dan publik. Selain itu juga mencegah terjadinya rintangan prikologis pada pihak publik. Sifat harmonis disini mengandung makna luas yakni adanya saling mempercayai (mutual confidence), iktikad baik (goodwill), toleransi (tolerance), membina saling pengertian (mutual understanding), saling menghargai (mutual appreciation) dan membangun citra baik (good image).

Public relations berperan dalam penjelasan atau pembelaan terhadap opini-opini yang kurang baik dari publik terhadap perusahaan tersebut, dengan cara menyajikan berbagai data, fakta dan informasi yang sebenarnya. Oleh karena itu harus ada proses yang kontinu dari manajemen perusahaan untuk memperoleh goodwill dan pengertian dari para konsumen, karyawan, dan publik pada umumnya. Secara internal dengan mengadakan analisa dan perbaikan-perbaikan terhadap perusahaan, sedangkan secara eksternal dengan survey, observasi dan publikasi.

Dalam setiap bidang pekerjaan, sudah secara otomatis terdapat ruang lingkup bidang pekerjaan. Ruang lingkup ini merupakan hal - hal apa saja yang akan dikerjakan atau menjadi sasaran kegiatan Public Relations. Ruang lingkup Public Relations terbagi dua, yaitu eksternal public relations dan internal public relations.

Berfungsi tidaknya Public Relations dalam sebuah organisasi menurut Efendy dalam bukunya Hubungan Masyarakat Suatu Studi Komunologis, dapat diketahui dari ada tidaknya kegiatan yang menunjukan ciri-cirinya yakni :
a. “Public Relations adalah kegiatan komunikasi dalam suatu yang berlangsung dua arah secara timbal balik.
b. Public Relations merupakan penunjang tercapainya tujuan yang ditetapkan oleh manajemen suatu organisasi.
c. Pulic yang menjadi sasaran kegiatan Public Relations adalah public eksternal dan public internal.
d. Operasionalisasi Public Relations adalah membina hubungan yang hrmonis antara organisasi dengan public dan mencegah terjadinya rintangan psikologis baik yang timbul dari pihak organisasi maupun dari pihak public”. (19994 : 24).

Kegiatan Public Relations terbagi menjadi dua. Kegiatan-kegiatan yang ditujukan kedalam disebut Internal Public Relations dan kegiatan-kegiatan yang ditujukan keluar Exsternal Public Relations.
Menurut Kasali dalm buku Manajemen Public Relations, Publik Internal adalah masyarakat yang berada dalam organisasi dan melakukan aktifitas yang berhubungan dengan kelangsungan hidup organisasi tersebut yang terdiri dari :
1.Pemegang saham dan pemilik perusahaan.
Manajer dan Top Executives, yaitu orang-orang yang memegang jabatan structural dalam perusahaan.
2.Karyawan, yaitu orang-orang di dalam perusahaan yang tidak memegang jabatan structural.
3.Keluarga karyawan (1994 : 65).

Berikut penjelasan Ruang Lingkup Public Relations yang dikutip dari beberapa buku : 

Ruslan (2010:22-23) menjabarkan adapun Ruang lingkup tugas Public Relations dalam sebuah ornganisasi/lembaga antara lain meliputi aktivitas sebagai berikut : 

a. Membina hubungan ke dalam (publik internal) 
Yang dimaksud dengan publik internal adalah publik yang menjadi bagian dari unit/badan/perusahaan atau organisasi itu sendiri. Seorang PR harus mampu mengidentifikasi atau mengenali hal-hal yang menimbulkan gambaran negatif di dalam masyarakat, sebelum kebijakan itu dijalankan oleh organisasi. Contohnya : Employee Relations (hubungan dengan para pekerja), Stockholder Relations (hubungan dengan para pemegang saham), Labour Rekations (hubungan dengan para buruh), Manager Relations (hubungan dengan para manager)

b. Membina hubungan ke luar (publik eksternal) 
Yang dimaksud publik eksternal adalah publik umum (masyarakat). Mengusahakan tumbuhnya sikap dan gambaran publik yang positif terhadap lembaga yang diwakilnya. Contoh Ekternal Relation : Goverment relations (menjaga hubungan baik dengan pemerintah), Community relations (menjaga hubungan baik dengan warga setempat) , Consumer relations (menjaga hubungan baik dengan konsumen), Media and Pers relations (menjaga hubungan dengan media massa dan pers).

Dalam usaha untuk menciptakan suasana yang menyenagkan dan keuntungan dalam badan itu, komunikasi yang bersifat “two-way Communication” mutlak harus ada, yaitu komunikasi antara pimpinan dengan bawahan dan juga antara bawahan dan pimpinan yang merupakan “feedback” yang berdasarkan hubungan manusiawi yang baik dan menciptakan suasana kerja yang kondusif. Tugas Public Relations dalam Internal Public Relations yaitu menyelenggarakan komunikasi yang sifatnya persuasif dan informatif.

Berdasarkan hal tersebut, tugas penting Exsternal Public Relations adalah mengadakan komunikasi yang efektif, informatif dan persuasif, yang ditujukan kepada public diluar badan itu. Informasi yang disampaikan harus jujur, teliti dan berdasarkan fakta. Sebab public mempunyai hak untuk mengetahui hal yang sebenarnya terjadi dalam perusahaan.
Dengan kelompok-kelompok tersebut harus senantiasa diadakan kominikasi dalam rangka memelihara dan membina hubungan yang harmonis dengan mereka. Hubungan baik dengan public Eksternal sama pentingnya dengan public Internal, turut menentukan sukses tidaknya tujuan yang dicapai oleh suatu organisasi.


 Daftar Pustaka
http://pr-teoridanpraktik.blogspot.co.id/2014/11/ruang-lingkup-public-relations.html
https://e-ddaily.blogspot.co.id/2015/09/public-relations-ruang-lingkup-pr.html