Public
Relations profesional dalam pengelolaan sasaran/target yang hendak dicapainya
melakukan pengadopsian tehnik-tehnik Management of Objective (MBO) dan
Management by Objective of Result (MOR) untuk membantu ualitas nilai Public
Relations dalam suatu organisasi.
MBO dapat memberikan profesional Public
Relation dengan sumber umpan yang sangat kuat. MBO dan MOR berhubungan dengan
hasil-hasil Public Relations untuk penentuan target awal manajemen. Adapun
poin-poin dalam MBO menurut Sholeh Soemirat dan Elvinaro Ardianto (2003:98)
adalah sebagai berikut :
1. Spesifikasi tujuan-tujuan organisasi dengan mencapai target
penampilan organisasi.
2. Konferensi
antara superior dan subordinate (bawahan)
untuk menyepakati terhadap pencapaian tujuan.
3. Kesepakatan
antara atasan dan bawahan pada target yang konsisten dengan tujuan-tujuan
organisasi.
4. Pengkajian
secara periodik oleh atasan dan bawahan untuk menilai kemajuan pencapaian
tujuan.
Adapun
kunci penggunaan MBO secara efektif dalam tugas Public Relations dapat di pecah ke dalam tujuan tahap secara
kritis :
1. Memiliki batasan dan misi kerja.
2.
Menetapkan
kunci areal keberhasilan (hasil) dalam jangka waktu tertentu, berupaya dan
berkepribadian.
3.
Identifikasi
fakto-faktor menentukan tindakan pada target yang telah ditentukan.
4.
Meletakan
target/menetapkan hasil yang akan dicapai.
5. Persiapan perencanaan secara taktis untuk mencapai target khusus, termasuk:
Pemrograman untuk memantapkan suatu rangakain tindakan untuk mengikutinya., penjadwalan
waktu yang dibutuhkan bagi setiap tahapan, penganggaran untuk menugaskan sumber
daya yang dperlukan bagi pencapaian tujuan, pemantapan pertanggung jawaban
secara individu untuk pencapaian target/sasaran, pengkajian dan rekonsiliasi
(perdamaian) melalui suatu prosedur testing untuk membawa kemajuan.
6. Pemantapan keputusan dan peraturan untuk mengikutinya.
Sebagaimana
diketahui sebelumnya bahwa tujuan public relations yakni membangun dan
mengembangkan citra yang positif bagi perusahaan atau organisasi terhadap
publik internal (karyawan) ataupun publik eksternal (konsumen atau masyarakat).
Maka strategi public relations adalah bagian dari suatu rencana public
relations yang diarahkan untuk membentuk persepsi yang menguntungkan sehingga
menghasilkan citra yang positif.
Menurut
Ahmad S. Adnanputra yang dikutip oleh Rosady Ruslan dalam bukunya Manajemen
Public Relations dan Komunikasi mengatakan bahwa arti strategi public relations
adalah alternatif optimal yang dipilih untuk ditempuh guna mencapai tujuan
public relations dalam kerangka atau rencana public relations (public relations
plan)[1].
Lebih lanjut Adnanputra menyatakan bahwa strategi adalah
bagian terpadu dalam suatu rencana, sedangkan rencana merupakan produk dari
suatu perencanaan, yang pada akhirnya perencanaan adalah satu fungsi dasar dari
proses manajemen. Dalam suatu strategi terdapat beberapa komponen yang akan
berpengaruh, baik secara makro, maupun secara mikro yaitu lingkungan, kondisi,
visi atau arah, tujuan, dan sasaran dari suatu pola yang menjadi dasar bagi
suatu lembaga. Beberapa aspek
strategi atau pendekatan yang lazim digunakan oleh para praktisi public relations
dalam mewujudkan tujuannya (Ruslan,2003:121), yaitu melalui pendekatan kemasyarakatan,
persuasif, dan edukatif, tanggung jawab sosial public relations, kerjasama,
serta pendekatan koordinatif dan integratif. Hal ini berkaitan erat dengan
fungsi public relations yang diembannya, yaitu sebagai penyampai kebijakan
manajemen kepada publiknya dan penyampai opini publik untuk manajemen. Karena
keberhasilan suatu organisasi di mata publiknya, yaitu terciptanya hubungan yang
harmonis. Hal ini hanya bisa dicapai manakala kebersamaan telah menjadi suatu
keniscayaan. Pelaksanaan strategi public relations dalam berkomunikasi dikenal
dengan istilah 7-Cs public relations communication menurut Cutlip, Center &Broom
dalam Ruslan (2005:113-114) terdiri atas: credibility, contex, content,
clarity, continuity and consistency, channels, capability of the audinence.
Strategi public relations diarahkan kepada upaya-upaya menggarap persepsi para stakeholders untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau perusahaan. Konsekuensinya, jika strategi public relations tersebut berhasil maka akan diperoleh sikap, tindak dan persepsi yang menguntungkan dari stakeholders sebagai khalayak sasaran dan pada akhirnya akan tercipta opini atau citra yang menguntungkan bagi organisasi atau perusahaan.
Menurut
Cutlip & Center (dalam Kasali dan Abdurachman), terdapat proses public
relations yang mengacu kepada pendekatan manajerial. Proses ini terdiri dari: Fact
finding adalah mencari dan mengumpulkan fakta atau data sebelum melakukan
tindakan. Public relations perlu mengetahui apa yang diperlukan oleh publik
sebelum melakukan tindakan untuk memajukan perusahaanya.
Public
relations bisa melakukan analisis langsung ke lapangan dengan mengadakan survei
terkait produk yang diinginkan oleh publik. Misalnya, public relations
menanyakan apa saja yang dibutuhkan oleh publik, siapa saja yang termasuk ke
dalam publik, dan bagaimana publik dipandang dari berbagai faktor dengan maksud
strategi yang digunakan ke depannya tidak meleset dan bisa mengembangkan
perusahan yang diwakilinya. Planning adalah berdasarkan fakta membuat rencana
tentang apa yang harus dilakukan dalam menghadapi berbagai masalah dalam
perusahaan. Setelah melakukan fact finding ke lapangan barulah public relations
bisa melakukan rencana apa yang ingin dilaksanakan guna memenuhi kebutuhan publik.
Dalam tahap ini, public relations haruslah dituntut mempunyai ide yang kreatif
agar publik tertarik dengan yang ditawarkan oleh perusahaan yang mereka wakili.
Communicating
adalah rencana yang disusun dengan baik sebagai hasil pemikiran yang matang
berdasarkan fakta atau data, yang kemudian dikomunikasikan atau dilakukan
kegiatan operasional. Public relations berusaha mengkomunikasikan
rencana-rencana yang mereka lakukan ke depannya dengan memperkenalkan kepada
publik. Melakukan komunikasi dua arah dengan diadakannya acara-acara agar pihak
publik dengan perusahaan bisa bertemu langsung dalam penawaran produk yang
telah direncakan. Selain itu bisa juga dilakukan dengan mempublikasikan produk melalui
iklan (surat kabar, televisi dan radio).
Evaluation
adalah mengadakan evaluasi tentang suatu kegiatan, apakah tujuan sudah tercapai
atau belum. Ini adalah tahap terakhir dari proses public relations. Evaluasi
dilakukan secara kontinyu. Hasil evaluasi menjadi unsur dasar untuk kegiatan
public relations selanjutnya.[2] Untuk
dapat bertindak secara strategis, kegiatan public relations harus menyatu
dengan visi dan misi perusahaannya. Untuk memberikan konstribusi kepada rencana
kerja jangka panjang perusahaan, maka para praktisi public relations bisa
melakukan hal-hal sebagai berikut:
a.
Menyampaikan fakta dan opini, baik yang beredar di dalam maupun diluar
perusahaan. Informasi yang diterima oleh publik bisa dari media apa saja. Namun
public relations harus menyampaikan informasi yang sesuai dengan fakta. Public
relations berusaha menaikkan citra perusahaan dengan menyebarkan informasi yang
baik tentang perusahaan.
b.
Menelusuri dokumen resmi perusahaan dan mempelajari perubahan yang terjadi
secara historis. Perusahaan akan mengalami perubahan dari masa ke masa melalui
perkembangannya. Perubahan tersebut biasanya disertai dengan perubahan sikap
perusahaan publiknya atau sebaliknya. Public relations harus mempelajarinya dengan
teliti dan memahami perubahan perusahaan agar bisa melakukan peningkatan
perusahaan baik kinerjanya, dari segi produk atau jasa yang dihasilkan,
sehingga publik akan terus tertarik dan semakin percaya akan perusahaan yang
mereka wakili.
c.
Melakukan analisis SWOT (Strenghts/ kekuatan, Weaknesses/ kelemahan,
Opportunities/ peluang, dan Threats/ ancaman). Public relations perlu melakukan
analisis yang berbobot mengenai persepsi dari luar dan dalam perusahaan atas
SWOT yang dimilikinya.[3] Oleh
karena itu public relations harus mempunyai strategi khusus dalam menghadapi
hal-hal yang bisa menurunkan perkembangan perusahaan. Perusahaan atau
organisasi harus mampu menghadapi tekanan yang muncul dari dalam maupun luar
perusahaan.
Public
relations juga harus bisa berkonstruksi dalam manajemen dalam melakukan
perkembangan perusahaan dan menaikkan citra perusahaan. Peran public relations
dalam membangun citra tidaklah lengkap tanpa adanya perencanaan dari strategi
public relations. Strategi public relations yang hanya berfokus pada teori dan
tidak ditindaklanjuti ke lapangan pun tidak akan memberikan hasil. Public
relations disini, dalam merumuskan dan menjalankan tugasnya untuk membangun
citra, memerlukan kreasi yang mampu membuat
program-program unggulan yang dapat membangun citra perusahaan dan dapat
mempertahankan citra tersebut.
Sumber Referensi :
Ningrum Ardyat (2014), "Strategi Public Relations Pt. Kompas
Gramedia Dalam Membangun Citra Perusahaan (Studi
Kasus Program Corporate Social Responsibility
Bentara Budaya Jakarta)"
Chatamallah Maman (2005), Strategi “Public Relations” dalam
Promosi Pariwisata: Studi Kasus dengan
Pendekatan “Marketing Public Relations” di
Provinsi Banten
MEDIATOR, Vol. 9 No.402 2 Desember 2008
Sumber dari Google
[1] Rosady
Ruslan, S.H, Manajemen Humas & Manajemen Komunikasi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo, 2001), h. 115.
[2] Soleh
Soemirat & Elvinaro Ardianto, Dasar-dasar Public Relation, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), h. 90.

