.post { -webkit-touch-callout:none; -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -ms-user-select:none; -moz-user-select:none; } .post blockquote,.post pre,.post code { -webkit-touch-callout:text; -webkit-user-select:text; -khtml-user-select:text; -ms-user-select:text; -moz-user-select:text; }

Selasa, 05 Desember 2017

Perencanaan Program Public Relations


Perencanaan merupakan bagian yang sangat penting dan dapat dikatakan menjadi hal yang fundamental dalam pekerjaan humas yang dijalankan oleh para praktisi PR. Kampanye humas mencakup hal-hal seperti menetapkan tujuan yang hendak dicapai,mempertimbangkan alternatif-alternatif yang nantinya akan tersedia sebagai jalan kedua dalam menjalankan suatu proses,menilai dan memperhitungkan suatu resiko yang akan diterima dan manfaat dari masing-masing alternatif yang dipilih,memutuskan suatu keputusan sebagai suatu arah tindakan,menetapkan besarnya anggaran,serta mendapatkan persetujuan dan dukungan yang dibutuhkan dari pihak manajemen perusahaan.

Bentuk konkret dari suatu rencana adalah program kerja. Setiap praktisi humas dituntut untuk dapat menyusun program kerjanya,baik untuk program jangka panjang maupun jangka pendek. Program kerja harus dipersiapkan secara cermat dan hati-hati agar dapat memberikan hasil yang nyata. Tanpa adanya program yang terencana,praktisi humas hanya berkerja berdasarkan naluri atau insting saja sehingga mudah kehilangan arah,mudah tergoda terhadap hal-hal yang baru.Hal tersebut membuat praktisi humas sulit memantau sejauh mana hasil yang sudah dicapai.

Perencanaan adalah proses dasar yang digunakan untuk memilih tujuan dan menentukan cakupan pencapaiannya. Merencanakan berarti mengupayakan penggunaan sumber daya manusia (human resources), sumber daya alam (natural resources), untuk mencapai tujuan.[1]

Perencanaan sebagai tahap kedua dalam kegiatan humas meskipun didukung oleh data faktual yang lengkap-belum tentu akan membuat pelaksanaan efektif apabila tahap ini tidak ditangani dengan seksama. Pada tahap perencanaan, humas (public relation) perlu terlebih dahulu menginventarisasi masalah untuk selanjutnya mengkorelasikan aspek yang satu dengan aspek yang lainnya sehingga dalam tahap pelaksanaannya kelak, masalah-masalah yang dihadapi berdasarkan data yang berhasil dihimpun pada tahap penelitian, disusun, diklarifikasikan dengan rapi dan jelas, demikian pula pemikiran untuk memecahkannya.[2]

Definisi perencanaan kerja/program menurut pakar humas, Jefkins, yaitu: “Public Relations consist of all forms of planned communication outwards and inwards between an organization and its public for the purpose of achieving specific objectives concerning mutual understanding[3]Kegiatan kehumasan menurut Cultip dan Center salah satunya menciptakan komunikasi dua arah timbal balik dengan menyebarluaskan opini publik kepada organisasi.

Dinas Komunikasi dan Informatika menyediakan layanan informasi bagi masyarakat yang membutuhkan informasi secara langsung dan online, sehingga berlangsung komunikasi dua arah antara organisasi dan publiknya.[4] Sesuai peranannya sebagai pengabdi kepentingan umum, sebagai mediator utama antara pimpinan dengan publik, dan sebagai dokumentator, maka kegiatan humas dititik beratkan salah satunya pada program pelayanan. Program ini berupa pelayanan data atau informasi baik secara lisan maupun tertulis, termasuk penyelenggaraan tetap dan pameran.[5]

Secara garis besar bahwa kampanye komunikasi merupakan aktivitas komunikasi yang terorganisasi, secara langsung ditujukan khalayak tertentu, pada waktu yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan tertentu.[6] Sebagaimana fungsi humas menyelenggarakan kampanye untuk mencapai tujuan tertentu, maka Dinas Komunikasi dan Informatika provinsi Riau melakukan sosialisasi pada dinas-dinas provinsi Riau mengenai Undang-Undang keterbukaan Informasi Publik. Alasan mengapa Humas harus membuat perencanaan dalam melakukan kegiatannya antara lain : [7]

a. Alasan dalam kegiatan perencanaan (action plan), yaitu dapat bersifat proaktif, reaktif, defensif, preventif, protektif dan hingga profitabel. Misalnya, seorang humas bertindak sedia payung sebelum hujan (proaktif) atau mencari payung ketika hujan (reaktif).
b. Alasan mengapa (why) 1) Untuk mengantisipasi perubahan lingkungan lebih luas, seperti perubahan teknologi, ekonomi, politik, hukum dan teknologi. 2) Menghadapi perubahan lebih sempit (operasional), seperti menghadapi persaingan, perubahan selera pelanggan, life cycle product, sistem komunikasi, media massa, tenaga kerja dan relasi bisnis. 3) Menciptakan tujuan yang objektif, sasaran dan target yang ingin dicapai secara jelas dan rinci.
 Menurutnya lagi manfaat perencanaan kerja humas adalah:
a. Membantu pihak manajemen organisasi untuk mampu beradaptasi terhadap lingkungan yang sering berubah-ubah.
b. Mengefektifkan dan mengefisienkan koordinasi atau kerja sama antar departemen dan pihak terkait lainnya.
c. Mengefisiensikan waktu, tenaga, upaya dan biaya.
d. Menghindari risiko kegagalan dengan tidak melakukan perkiraan atau perencanaan tanpa arah yang jelas dan konkret.
e. Mampu melihat secara keseluruhan kemampuan operasional, pelaksanaan, komunikasi, target dan sasaran yang hendak dicapai di masa mendatang.
f. Menetapkan klasifikasi rencana kerja humas, yaitu rencana strategis (sesuai dengan kebijakan tujuan jangka panjang), rencana tetap (reguler, yang dapat dilakukan berulang-ulang) dan rencana tertentu (rencana jangka pendek, khusus, dan terbatas).

Proses Perencanaan Menurut George L. Morrisey, dalam bukunya Management by Objective and Results for business and Industrydalam Morissan, proses perencanaan dan penetapan program humas mencakup langkah-langkah sebagai berikut: [8]
a. Menetapkan peran dan misi, yaitu menentukan sifat dan ruang lingkup tugas yang hendak dilaksanakan.
b. Menentukan wilayah sasaran, yaitu menentukan di mana praktisi humas harus mencurahkan waktu, tenaga, dan keahlian yang dimiliki.
c. Mengidentifikasi dan menentukan indikator efektifitas (indicators of evectiveness) dari setiap pekerjaan yang dilakukan. Menentukan faktor-faktor terukur yang akan memengaruhi tujuan atau sasaran yang akan ditetapkan.
d. Memilih dan menetukan sasaran atau hasil yang ingin dicapai.
e. Mempersiapkan rencana tindakan yang terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: 1) Programming-menentukan urutan tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. 2) Penjadwalan(scheduling)-menentukan waktu yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan untuk mencapai tujuan atau sasaran. 3) Anggaran (Budgeting)-menentukan sumber-sumber yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. 4) Pertanggung jawaban-menetapkan siapa yang akan mengawasi pemenuhan tujuan, yaitu pihak yang menyatakan tujuan sudah tercapai atau belum. 5) Menguji dan merevisi rencana sementara (Tentative Plan)sebelum rencana tersebut dilaksanakan. 6) Membangun pengawasan, yaitu memastikan tujuan akan terpenuhi. 7) Komunikasi-menentukan komunikasi organisasi yang diperlukan untuk mencapai pemahaman serta komitmen pada enam langkah sebelumnya. 8) Pelaksanaan-memastikan persetujuan diantara semua pihak yang terlibat mengenai komitmen yang dibutuhkan untuk menjalankan upaya yang sudah ditemukan, pendekatan apa yang paling baik, siapa saja yang perlu dilibatkan.

Menurut Thomas dalam bukunya Manajemen: kepemimpinan dan kolaborasi dalam dunia yang kompetitif, langkah-langkah perencanaan antara lain: [9]
a. Analisis situasional Dibatasi oleh waktu dan sumber daya, para perencana harus mengumpulkan, mengartikan, dan merangkum semua informasi yang relevan terhadap isu perencanaan yang dibahas.
b. Sasaran dan rencana alternatif Berdasarkan hasil analisis situasi, proses perencanaan harus menghasilkan sasaran-sasaran alternatif yang dapat diterapkan di masa mendatang dan rencana alternatif yang mungkin digunakan untuk mencapai sasaran ini.
c. Evaluasi sasaran dan rencana selanjutnya Manajer akan mengevaluasi keuntungan, kerugian, dan pengaruh yang potensial dari setiap sasaran dan rencana alternatif.
d. Pemilihan sasaran dan rencana Ketika manajer menguji sejumlah sasaran dan rencana, mereka akan memilih salah satu yang tepat dan masuk akal.
e. Penerapan Setelah manajer memilih sasaran dan rencananya, mereka harus menerapkan rencana-rencana yang dirancang untuk mencapai sasaran.
Adapun perencanaan enam langkah yang sudah diterima secara luas oleh para praktisi humas profesional adalah sebagai berikut: [10]
a. Pengenalan situasi
b. Penetapan tujuan
c. Definisi khalayak
d. Pemilihan media dan teknik-teknik PR
e. Perencanaan anggaran
f. Pengukuran hasil Dalam perencanaan, humas haruslah ada penetapan tujuan dibuat berdasarkan riset yang telah dilakukan baik melalui riset yang bersifat formal maupun informal dengan mengadakan serangkaian diskusi atau konsultasi secara mendalam dengan berbagai pihak guna mengungkapkan kebutuhan komunikasi paling mendasar yang dirasakan. Dengan hasil riset ditemukan masalah yang dihadapi, sehingga tujuanperencanaan humas merupakan upaya mengatasi masalah.[11]

Menurut Cutlip-Center-Broom, praktisi humas profesional dalam melaksanakan kegiatan humas harus terdiri atas empat langkah yaitu:
a. Menentukan masalah (defining problem).Meliputi kegiatan untuk meneliti dan mengawasi pengetahuan, pendapat, sikap dan tingkah laku khalayak.
b. Perencanaan dan penyususnan program (planning and programming). Mencakup tindakan untuk memasukkan temuan yang diperoleh pada langkah pertama dalam kebijakan dan program organisasi.
c. Melakukan tindakan dan berkomunikasi (taking action and communicating). Mencakup kegiatan melaksanakan tindakan dan melakukan komunikasi yang sejak awal dirancang untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
d. Evaluasi program (evaluating theprogram). Mencakup penilaian atau evaluasi atas persiapan, pelaksanaan dan hasilhasil program. [12]

Sumber Referensi

1. Nunuk Febrianingsih, 2012. “Keterbukaan Informasi Publik Dalam Pemerintahan Terbuka Menuju Tata Pemerintahan Yang Baik” dalam Jurnal Rechtsvinding Volume 1 No 1, April 2012



[1] Siswanto, Op. Cit., hlm 42.
[2] Onong Udcjana Effendy, Op. Cit., hlm 100.
[3] Frank Jefkins, Public Relations, (Jakarta: Erlangga, 2004), hlm 13.
[4] Onong Udcjana Effendy, Op. Cit., hlm 36.
[5] Widjaja, Pengantar Ilmu Komunikasi,( Jakarta: Rieneka Cipta, 2008), hlm. 61.
[6] Rosady Ruslan, Kampanye Public Relations, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007),
[7] Rosady Ruslan, Op. Cit., hlm 155-156.
[8] Morissan, Manajemen Public Relations: Strategi Menjadi Humas Profesional, (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2008), 153-154.
[9] Scott, Thomas, Manajemen: Kepemimpinan dan Kolaborasi dalam dunia yang
Kompetitif edisi 7, (Jakarta: Salemba 4, 2008), 153-159.
[10] Frank Jefkins, Op. Cit., hlm 57.
[11] M.J Ritonga, Riset Kehumasan, (Jakarta: Gramedia, 2004), 94.
[12] Morissan, Op. Cit., hlm 108-109.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar